Transisi

•15 Oktober 2009 • 12 Komentar

Menikmati hari-hari terakhirku bermalas-malasan di rumah, karena mulai minggu depan (mudah-mudahan tidak ada penundaan lagi) aku sudah harus menjual diri dan jiwa pada orang yang mau memberiku recehan. Aku tak kan punya waktu lagi untuk berselancar, nongkrongin laptop beserta modemnya. Juga tak akan sempat lagi menyiapkan dan menyaksikan anakku berangkat sekolah. Akan seperti apa ya rasanya ketika waktu yang kita habiskan dinilai dengan rupiah? Kinda ironic of human being. Haha… c’est la vie.

Mungkin gagasan Karl Marx untuk bekerja tidak demi uang adalah bagus untuk memanusiakan manusia walau itu pasti utopia. Karl Marx pernah bermimpi yang aku tafsirkan begini. Setiap orang wajib bekerja sesuai keahliannya. Mereka bekerja tidak digaji, karena urusan makan, baju, rumah, dan kebutuhan fisik lainnya akan diurus oleh negara, dibagi secara sama rata. Tidak ada hak milik pribadi. Jadi seseorang akan bekerja demi kepuasan diri dan eksistensi belaka, tidak demi uang. Banyak kelemahannya pasti, tapi aku rasa ide itu tetap layak diperhitungkan dengan menyediakan modifikasinya. Itu kalau aku tidak salah menerjemahkan mimpi beliau ya..

Semakin lama kusadari, raga kita adalah penjara terbesar kita (mengutip kata-kata teman dekatku). Betapa banyak yang dituntut oleh raga ini, padahal dia hanyalah makhluk fana. Sedangkan jiwa, sebagai makhluk kekal, bisa dipuaskan dengan sedikit biaya. Aku bisa melakukan pengembaraan jiwa, menerobos ruang dan waktu, membebaskan imajinasiku, tanpa sepeserpun dollar yang aku butuhkan. Jiwaku bisa sampai ke negeri nun jauh di bawah kakiku dengan gratis, yang mana kalau aku bawa serta ragaku, ongkosnya akan mencapai 10 kali lipat biaya hidup bulanan keluargaku. Boros sekali raga ini.

Beberapa tahun belakangan ini, aku senang sekali memakai jasa keajaiban dunia yang ketujuh ini. Bagiku, internet adalah keajaiban dunia, soalnya aku gaptek euy…jadi mudah terbengong-bengong dengan kemajuan teknologi semacam internet ini. Dunia virtual ini benar-benar aku fungsikan sebagai pelarianku dari dunia non virtual yang kadang terlalu kejam dan terlalu nyata.

Rasanya seperti tak berwujud dunia internet itu. Seperti angin yang tak tampak tapi terasa semilirnya. Aku bisa bersahabat dengan orang yang belum sekalipun bertemu denganku, mengenali karakternya hanya melalui tulisan-tulisannya. Sungguh hal yang tidak dapat masuk akalku dulu.

Tapi sekarang, aku mau belajar terjun di dunia nyata. Merasakan benar-benar rasanya disuruh-suruh sambil dimaki seenak hati oleh bos besar, rasanya panas matahari membakar kulitku ketika aku harus turun ke jalan, merasakan cacian kenek metromini karena aku lambat turun dari bisnya, yah…merasakan semua yang sewajarnya dirasakan oleh manusia kebanyakan. Dan merasakan juga menerima uang dari hasil keringat sendiri.

Ada yang aku korbankan dari keputusanku untuk keluar dari persembunyian mayaku ini. Aku akan jarang update blog, jarang blog walking juga, dan jarang nongol di situs pertemanan. Seperti kata teman baikku yang belum pernah kulihat bentuk 3D-nya karena aku hanya berteman melalui World Wide Web, setiap kita kehilangan sesuatu, alam akan menggantinya dengan yang setara, seperti rumus kimia yang….duh, yang mana ya? Pokoknya hukum kesetimbangan reaksi kimia deh (sebenarnya aku ingat sih, cuma takut dibilang pinter, jadi pura-pura lupa…*ngeles.com*).

Postingan ini aku persembahkan untuk para blogger, dimanapun berada, yang tulisan-tulisan dan komentar-komentarnya telah menginspirasiku, membuatku menjadi dewasa (iya gitu?), membuatku berani mengambil keputusan, dan segalanya deh. Ternyata berteman itu menyenangkan, apalagi berteman dengan para blogger di dunia maya. Karena ketika aku masuk ke blog seseorang, maka semua egoku aku tanggalkan, dan aku benar-benar siap membuka pikiranku untuk masuk ke dunia blogger tersebut yang terwujud dalam postingannya. Sedangkan bila kita berkunjung secara nyata ke rumah orang, belum tentu kita mau dan mampu menanggapi topik yang sedang ingin dibicarakan oleh tuan rumah.

Semoga apa yang aku pilih dan putuskan dapat menjadi berkah bagi semuanya. Walaupun, dengan sesadar-sadarnya aku tahu bahwa setiap keputusan dalam hidup tidak dapat menyenangkan semua pihak. Tapi hidup adalah perkara memilih. Semoga juga aku siap menghadapi segala resiko pilihanku. Amin.

Cul de sac

•12 Oktober 2009 • 11 Komentar

Pada suatu hari yang cerah, tidak mendung pun tidak menyengat. Lokasi tentu saja bukan Jakarta, karena Jakarta sulit untuk berudara sejuk, mungkin di Bogor, atau di Bandung. Aku berjalan menyusuri boulevard sebuah perumahan mewah. Sendiri. Lima meter di depan posisiku, aku melihat sebuah rambu peringatan yang memberitahuku bahwa jalan tersebut akan buntu pada jarak 10 km dari rambu tersebut dipasang. Aku terpaku di tempat dan mulai berpikir. Wow, jalan buntu tho…

Ada 3 opsi utama yang terlintas di benakku. Pertama, tetap menyusuri jalan tersebut hingga ketemu titik buntunya. Kedua, berbalik arah. Ketiga, berjalan di tempat saja.

Opsi pertama. Bila aku memutuskan untuk tetap melalui jalan tersebut, maka aku harus menyiapkan segala kekuatanku untuk menerobos dinding penghalang jalan tersebut. Atau bisa juga aku berusaha menumbuhkan sayap di punggungku. Saranku jangan pakai obat penumbuh jenggot, ga ngefek, ini sayap yang kita bicarakan, bukan sekedar bulu-bulu ringkih yang hanya bisa dijadikan tempat bergantungnya bidadari di alam sana. Yang aku butuhkan adalah sayap yang kokoh yang dapat membawaku terbang tinggi melintasi perintang jalan.

Dan kemungkinan terakhir adalah aku mengubah diriku menjadi tikus, sehingga aku dapat membuat terowongan bawah tanah, dan persoalan jalan buntu pun terselesaikan. Tapi aku kurang suka menjadi tikus. Karena jalan tikus itu bagiku ibarat sebuah kecurangan. Kebetulan, aku tak ingin mencurangi hidup, seberat apapun itu harus dijalani.

Diatas semua kemungkinan yang aku berikan itu, akan muncul sebuah pertanyaan realistis, apa itu mungkin? Maksudku, apa mungkin akan tumbuh sayap di punggungku atau aku bisa menerobos tembok macam makhluk halus di film-film horror  itu? Ya benar, tidak ada yang tidak mungkin didunia ini selain makan kepala sendiri. Berarti makan kepala orang masih mungkin lho…:) Tapi, berapa persen kemungkinannya itu? Apakah cukup layak untuk dicoba? Butuh perhitungan dan survey yang lebih mendetil tentang itu, dan sangat mungkin akan menghabiskan energi hidupku. Yang aku takutkan malah, saking banyaknya energi yang tersita untuk membuat perhitungannya, sampai-sampai aku tak kuat lagi  untuk melanjutkan perjalananku. Si Takdir akan tertawa terpingkal-pingkal kalau sampai ini yang terjadi.

Opsi pertama ini masih menyisakan satu peluang pemikiran lagi. Kenapa tidak dijalani saja, toh titik buntunya masih berada 10 km di depan. Apa yang akan dilakukan menghadapi kebuntuan, ditentukan nanti saja kalau sudah benar-benar berada di depan titik buntu tersebut. Ini namanya makhluk paling bebal di dunia. Buat apa dipasang rambu peringatan kalau hanya untuk diabaikan?

Lanjut ke opsi kedua. Berbalik arah, dan mengubah tujuan perjalanan. Gampang kan sebenarnya. Ada pepatah mengatakan, orang waras membuat keinginannya menyesuaikan diri dengan kehidupan, orang gila membuat kehidupan menyesuaikan diri dengan keinginannya, oleh karenanya kemajuan tingkat kehidupan ada ditangan orang-orang gila. Hhmmm…mau waras apa gila ya?

Opsi ketiga. Berjalan di tempat. Dengan berjalan di tempat aku tidak akan pernah sampai pada titik buntu tersebut, sehingga tidak ada masalah yang harus diselesaikan. Berjalan ditempat juga membuat aku merasa telah mendapat pencapaian-pencapaian tertentu, tanpa aku perlu pergi kemana-mana. Pilihan yang aman walaupun bodoh, karena setidaknya aku tidak akan disebut menyerah, karena aku bisa berdalih bahwa aku kan masih tetap berjalan.

Ujung-ujungnya, untuk sementara aku akan memilih untuk mampir ke warung kopi yang kebetulan ada di dekat rambu peringatan jalan buntu tersebut. Ngopi-ngopi dulu, merokok-merokok dulu. Rokok mild untuk cewek, rokok kretek untuk cowok (bukan bias gender, cuma biar yang cewek kelihatan imut tapi berani, sedangkan yang cowok biar kelihatan ga seperti cewek aja..hehehe). Nongkrong-nongkrong dulu ajah. Sambil berharap lima menit kemudian malaikat maut meniupkan terompet sangkakalanya untuk memanggil sang kiamat yang memang sudah siap menghampiri sehingga aku tak perlu membuat keputusan apapun lagi. Lagi pula, ga mungkin kok boulevard perumahan mewah itu buntu, bisa bangkrut developernya, kecuali arsitek yang menata perumahan tersebut lagi mabuk karena cinta…:D

Kantin Salman

•5 Oktober 2009 • 6 Komentar

Sewaktu aku masih menjadi mahasiswa di Bandung, aku sering makan di Kantin Salman. Selain karena lokasinya yang dekat kampusku, makanannya juga enak dan murah, menurutku ketika itu. Ya..tidak enak-enak amat sih, masih kalah bila dibandingkan Kantin Borju di jurusan IF, atau Pondok Kapau di Simpang Dago, tapi setidaknya tempatnya cukup bersih.

Kemarin, ketika aku kembali ke Bandung, aku mampir ke Kantin Salman untuk makan siang. Penuh, seperti biasa, oleh mahasiswa berkantong cekak kelihatannya. Pilihan menu masih tak jauh beda dengan jaman dahulu. Pelayannya pun muka-muka lama yang masih akrab kukenali. Setelah memenuhi piringku dengan nasi dan lauk pauk, aku menuju kasir untuk bayar. Sudah kuduga, harganya benar-benar harga mahasiswa. Selanjutnya aku memilih kursi untuk menikmati makan siangku. Agak kaget aku dengan rasanya. Kok seperti ada yang berubah ya, aku membatin. Kemudian aku mengamati orang-orang lain yang sedang makan disana. Mereka terlihat asyik-asyik saja dengan makanannya.

Karena takut mubadzir, aku habiskan juga makan siangku. Terlintas dalam benakku, sebenarnya yang berubah rasa makanannya ataukah lidahku. Mungkinkah pengalaman lidahku malang melintang di berbagai jenis rasa makanan enak (yang disertai mahal) membuat lidahku menjadi tidak bersahabat lagi dengan rasa makanan Kantin Salman? Rasa itu memang urusan pengalaman, rasa apapun itu.

Ketika aku masih mahasiswa, boleh dibilang aku sangat jarang makan di restoran mahal. Jangankan restoran mahal, makan di restoran fastfood, yang untuk kantong masyarakat menengah termasuk murah saja, aku jarang. Paling bila ada teman kost yang sudah bekerja sedang ingin mentraktir, baru aku bisa merasakan burger dan segala turunannya itu. Atau kadang bila ada cowok yang lagi PDKT, menjadi salah satu kesempatanku mencicipi makanan ala Barat itu (kesian amat ya…:( ).

Sekarang, kehidupan ekonomiku sudah jauh lebih baik daripada sewaktu masih menjadi mahasiswa dahulu. Akibatnya, rasa makanan di Kantin Salman pun menjadi kurang pas di lidahku. Kalau rasa itu adalah perkara pengalaman, maka aku akan menyesali semua pengalaman lidahku, bila pada akhirnya aku tidak dapat menikmati rasa yang murah di Kantin Salman.

Lebih jauh lagi, bila semua kemewahan kebendaan (ga mewah-mewah amat sih, cuma lebih mewah dibanding dahulu saja) membuatku tak bisa lagi merasakan kesederhanaan, maka aku akan lebih suka melupakan saja semua pengalamanku itu. Dalam banyak hal, kemewahan rasa itu seringkali membuat kita buta akan kesederhanaan.

Seorang Gandhi yang vegetarian pernah berkata, rasa makanan itu tidak terletak di lidah, tapi pada pikiran kita. Artinya, kita bisa mengontrolnya. Pernyataan ini mungkin akan ditolak oleh para chef dan pemilik restoran mahal. Entahlah. Yang aku rasakan hanya spirit Gandhi untuk mensyukuri setiap makanan yang di dapat setiap hari, dan segala hal yang kita dapat dalam hidup kita.

Apakah benar makan di sebuah kafe di puncak gunung jauh lebih nikmat dibandingkan makan di warung tenda di puncak gunung yang sama? Bagiku, minum kopi di St****ck tidak lebih menyenangkan daripada minum kopi di warung pinggir jalan. Kadang, yang kita beli hanya prestise-nya saja, yang notabene sering diidentikkan dengan kenyamanan. Beberapa fasiltas memang akan dipenuhi oleh kafe-kafe itu, seperti wi-fi, meja dan ruangan yang luas ber-AC, sehingga memudahkan kita menemui klien. Tetapi, bila sekedar ngobrol tidak resmi, dan nongkrong saja, sepertinya kita tidak butuh fasilitas sebanyak itu. Semua itu hanyalah urusan rasa.

Kembali ke Kantin Salman, bahkan anakku pun tidak mau makan makanan disana (berarti boleh aku bilang, masakanku di rumah lebih enak daripada masakan Kantin Salman dong… :P). Aku tak mau anakku menjadi picky eater, menjadi anak yang selera makannya tingkat tinggi. Aku ingin anakku bisa makan apa saja, seperti aku (semoga bukan berarti maruk..hehe).

Kesederhanaan itu mewah, walau tidak mahal. Dan aku ingin selalu memilikinya.

About Him That I Love

•4 Oktober 2009 • 3 Komentar

8 tahun yang lalu aku menikah. Itu adalah saat-saat yang aneh bagiku. Umurku ketika itu 23 tahun, sedangkan suamiku 25 tahun. Aneh, karena tiba-tiba aku harus membagi segalanya dengan orang lain. Membagi rahasia batin, membagi tempat tidur, membagi masa depan, dan termasuk juga ketika aku harus masuk dalam keluarga besar suamiku. Aku bagaikan orang asing yang tiba-tiba harus menjadi bagian tak terpisahkan dari sebuah komunitas. Suamiku bukan orang yang baru aku kenal sebenarnya. Aku ‘berpacaran’ selama 3 tahun, sebelum aku memutuskan menikah dengannya. Dia adalah orang yang baik, jujur, dan memegang tinggi komitmen. Mungkin kami berbeda, tapi itu tidak seratus persen. Bukankah di dunia ini memang tidak ada perbedaan atau persamaan seratus persen dari tiap-tiap orang?

Suamiku senang mendaki gunung. Dan aku juga senang mendaki gunung. Kami pernah bersama-sama menaklukkan gunung tertinggi di Jawa Barat, Gunung Ciremai. Betapa bahagianya aku ketika itu, karena aku tak mungkin bisa mencapai puncak itu kalau bukan bersama suamiku. Ketika aku memutuskan dekat dengannya, saat itu adalah masa-masa paling buruk kuliahku. Aku turun angkatan sampai 2 tingkat. Aku sedang mabuk dengan buku-buku sastra dan filsafat, sampai-sampai kuliahku terlantar. Aku juga sedang giat-giatnya mengikuti berbagai aktifitas di luar kegiatan belajar mengajar, dan aku tidak bisa membagi waktu dengan kuliahku. Mungkin juga karena aku sebenarnya kurang tertarik dengan ilmu kuliahku. Yang pasti, kalau bukan karena suamiku, mungkin aku tidak akan bisa menyelesaikan kuliahku.

Suatu ketika yang tidak kusangka, aku pernah tertarik untuk berteman dekat dengan seseorang yang pada sisi yang lain mirip denganku. (Note: aku memiliki banyak sisi kepribadian, dan tiap sisinya akan selalu berpotongan dengan orang lain.) Setelah sekitar setengah tahun aku berinteraksi, akhirnya aku sampai pada kesimpulan bahwa aku memang paling cocok dengan suamiku. Memang, ada sisi vital dari diriku yang tidak dapat dipenuhi oleh suamiku, bahkan menjamahnya pun mungkin dia tidak bisa. Tapi, aku rasa sisi itu adalah vital tapi tidak penting. Karena kita ini hidup di dunia nyata, berhadapan dengan masalah sehari-hari yang juga nyata. Menemui kemacetan di jalan, kejahatan di angkutan umum, penghinaan dan peremehan oleh rekan kerja, dan lain-lain. Life is so real, that it doesn’t leave space for unrested soul.

Tidak butuh ruang yang terlalu luas untuk bercengeng-cengeng tentang cinta atau meratapi kehampaan hidup. Dan begitulah, aku jatuh cinta kembali kepada suamiku untuk kesekian kalinya. Dan rasa syukurku yang dalam kepada Tuhan YME, karena Dia menurunkan makhluk seperti suamiku untuk menjadi teman hidupku. Bagi aku yang labil, dominan, egois, dan mudah terbawa emosi, dia adalah lelaki terbaikku. Kadang kita sulit mensyukuri sesuatu yang kita miliki dan telah dipilihkan yang terbaik oleh Allah. Kita malah sibuk mencari apa yang tidak kita miliki, merasa bahwa sesuatu yang tidak kita miliki adalah lebih baik daripada sesuatu yang kita miliki. But it’s OK. Semua itu manusiawi. Aku diciptakan bukan sebagai malaikat tanpa cela, aku manusia biasa yang sangat berpeluang melakukan kesalahan.

Ini adalah blog ketigaku. Di blog-ku sebelumnya aku selalu menulis tentang muramnya cinta, hilangnya makna hidup, dan keluh kesah jiwa yang resah. Aku ingin mengubur semua kecemasan dan kegundahan jiwaku pada dua blogku sebelumnya. Sekarang aku ingin mulai menulis sesuatu yang tidak skeptic dan galau lagi, aku ingin membangun jiwa yang sehat melalui menulis hal-hal yang positif dalam hidup. Tidak ada untungnya bermuram durja menghadapi hidup, sedangkan senyuman jauh lebih berguna serta mudah menerapkannya pula. Menatap ke depan, tidak berjalan dengan kepala menghadap ke belakang (bisa nabrak soalnya :)). Berada disini, saat ini, tapi tetap tidak takut bermimpi. Bismillah…

Cerpen: Maaf…

•9 Agustus 2009 • 1 Komentar

Kembali ke kota Bandung, setelah sekian lama aku tinggalkan, membangkitkan kenangan lamaku akan kota ini. Sebenarnya aku tidak tinggal jauh dari Bandung, aku tinggal di Jakarta. Tapi sejak aku menikah 2 tahun yang lalu, aku seperti tak punya waktu lagi untuk pergi keluar kota.

Baru sekarang aku bisa kembali ke kota ini. Itu juga tidak untuk waktu yang lama. Suamiku hanya memberiku waktu 2 hari untukku mengurus pengambilan ijazah. Ternyata sudah banyak yang berubah dari kota ini. Kampusku juga sudah berubah banyak. Aku hampir tidak mengenalinya. Selama disini aku tinggal di kost temanku, Astrid. Suamiku menyarankanku untuk tinggal di hotel, agar tidak merepotkan temanku. Tapi aku lebih suka tinggal di kost Astrid, sekalian melepas rinduku pada temanku itu. Sudah lama juga kami tidak bertemu. Setelah lulus, Astrid memutuskan untuk tetap di Bandung. Bersama beberapa temannya dia membuka usaha cafetaria. Aku salut dengan semangat wirausahanya dan juga kemandiriannya.

Walaupun kini telah ada Mc Donald dan bangunan-bangunan baru lain di Simpang Dago, tapi udara dimalam hari masih tetap tak berubah. Dingin dan menusuk, memutar ulang kenanganku di masa-masa kuliah dahulu. Malam itu aku sedang makan sate Ponorogo di kaki lima Simpang Dago bersama Astrid, ketika tiba-tiba seorang laki-laki memanggil namaku. Dia kemudian duduk di depanku. Aku terdiam sejenak. Aku tak menyangka akan bertemu dia di kota ini. Laki-laki ini adalah sosok yang begitu dekat dengan kehidupanku di waktu kuliah dulu.

“Kapan datang?”, tanyanya.

“Tadi pagi”, jawabku singkat. Aku masih terperangkap dalam keterkejutanku.

“Sendirian?”

“Iya”

“Tinggal dimana selama di Bandung?”

“Aku tinggal di kost Astrid.”

Hanya obrolan pendek penuh basa basi yang selanjutnya mengisi percakapan kami di kaki lima itu. Sepanjang perjalanan menuju kost Astrid, pikiranku melayang kemana-mana. Pertemuan itu membuat kenangan tentang kota ini tersibak kembali seluruhnya. Tak terkecuali kenangan yang selama ini ingin aku lupakan.

Jam lima pagi, handphoneku berbunyi. Ternyata Norman yang menelponku. “Aku ingin ketemu hari ini. Kamu ada waktu jam berapa?”

“Aku nggak yakin aku bisa menemuimu hari ini?”, jawabku menolak halus ajakan Norman, laki-laki yang semalam sempat membuatku tak dapat tidur. “Aku harus mengurus ijazahku pagi ini dan jam lima sore aku sudah harus pulang ke Jakarta,” lanjutku.

“Terserahlah, tapi aku tetap akan menunggumu di depan lapangan basket sampai jam enam sore. Aku sangat berharap kamu mau menemuiku disana”

Belum sempat aku berkata apa-apa dia sudah menutup teleponnya.

Sepanjang pagi itu aku benar-benar gelisah. Sebagian dari hatiku sangat ingin menemuinya, tapi sisi yang lain melarangku melakukannya. Aku kangen padanya, tapi aku akan sangat merasa bersalah pada suamiku bila aku menemuinya. Dulu kami pernah mengukir banyak kenangan indah bersama. Sebenarnya aku menyayanginya, tapi entah kenapa sepertinya aku tidak sanggup untuk berkomitmen dengannya. Bagiku dia terlalu rumit untuk aku pahami sebagai pasangan jiwa. Aku sangat nyaman berada di dekatnya, tapi tidak untuk merencanakan masa depan bersamanya. Kami memiliki perbedaan yang besar tentang rencana masa depan. Akhirnya kami menjalani hari-hari indah kami tanpa ada komitmen apa-apa.

Selesai mengurus ijazahku, aku berjalan mengelilingi kampus ini tanpa tujuan. Entah sudah berapa kali aku melewati kolam ditengah kampusku ini, dan aku masih belum bisa memutuskan untuk menemuinya atau tidak.

“Hai, boleh aku duduk?”, sapaku padanya.

“Terima kasih sudah mau datang,” sambutnya. “Duduklah.”

Sejenak kami terdiam dan tenggelam dalam pikiran masing-masing. “Kamu undang aku bukan untuk saling diam kan?”, tanyaku mengejutkannya.

“Maaf”, jawabnya. “Aku kangen kamu, sangat kangen,” lanjutnya. “Jadinya aku nggak tahu harus ngomong apa sekarang.”

“Aku juga. Kudengar kamu bikin usaha sendiri di Mataram.”

“Iya, tapi nggak berjalan lancar. Mungkin karena pasar disana kurang bagus. Aku ingin memulainya kembali disini, di Bandung. Ternyata hidup yang sesungguhnya itu baru dimulai setelah lulus kuliah. Dulu aku pikir dengan ijazah ITB ku, aku akan mendapat pekerjaan dengan mudah. Tapi ternyata semuanya tak semudah itu. Kamu sendiri gimana? Kesibukanmu apa? Udah punya anak berapa?”

“Aku baru keguguran 2 bulan yang lalu. Kesibukanku tidak ada. Aku masih angin-anginan seperti dulu. Keinginan sih banyak, tapi nggak ada yang benar-benar aku kejar. Aku ini seperti layang-layang yang putus talinya. Kemana angin bertiup, kesanalah aku pergi. Ah, sudahlah, nggak usah bicara tentang keinginan dan cita-cita, ya. Aku sendiri sangat tidak mengerti dengan diriku.”

“Oh, aku turut berduka cita atas keguguranmu. Bagaimana suamimu? Apa dia baik padamu?”

“Iya, dia baik padaku. Tapi dalam beberapa hal dia agak susah memberiku toleransi. Ternyata menikah itu sangat melelahkan. Aku capek. Andai saja aku bisa cuti dari pernikahan ini.”

Kembali kesunyian menyelimuti kami. Hingga akhirnya dia memecah kesunyian. “Kenapa kamu dulu meninggalkan aku?” tanyanya.

“Aku tidak pernah meninggalkan siapapun.”

“Tolong jangan menyangkal bahwa ada hubungan istimewa antara kita sebelum laki-laki itu datang dalam hidupmu dan menghancurkan hidupku.”

“Entah sudah berapa kali aku bilang, kita tidak ada komitmen waktu itu. Aku bebas untuk pacaran dengan cowok lain sebebas kamu pacaran dengan cewek lain.”

“Aku tidak percaya kamu membebaskan aku untuk pacaran dengan cewek lain. Ketika aku dulu suka sama Niken, kamu memintaku untuk meninggalkannya. Kamu mengikatku, sedangkan kamu sendiri tidak mau terikat.”

“Aku tidak mengikatmu. Waktu itu aku hanya meminta kerelaanmu untuk meninggalkannya, aku tidak memaksamu. Aku juga tidak mengancammu apa-apa kalaupun kamu tetap tidak mau meninggalkannya. Jangan menuduhku yang bukan-bukan.”

“Aku masih mencintaimu dan akan tetap mencintaimu sampai ajal menjemputku. Ini adalah janjiku padamu dulu dan aku masih memegangnya hingga saat ini.”

Aku terdiam kembali. Aku tak tahu harus mengatakan atau bersikap apa saat itu. Aku juga masih menyayanginya seperti dulu. Aku senang bisa bertemu dia kembali saat ini. Tapi aku tak mau mengatakan ini padanya. Dia tidak boleh tahu apa yang kurasakan.

“Kenapa kamu dulu tidak mau menjadi pacarku?”, tanyanya padaku.

“Kita tidak cocok,” jawabku sambil menghela nafas panjang. “Kita lebih cocok untuk menjadi teman dekat daripada menjadi sepasang kekasih,” lanjutku.

“Non sense. Kita sebenarnya memiliki kesamaan dalam banyak hal, andai saja kamu mau membuka mata hatimu untuk melihat kesamaan itu. Tapi sayang kamu lebih memilih dunia hura-hura laki-laki itu.”

“Jangan ngomong sembarangan tentang suamiku. Kamu tidak mengerti betapa banyak peristiwa yang telah aku alami bersamanya, baik itu yang indah maupun yang buruk. Hubunganku dengannya tidak melulu hura-hura dan senang-senang saja.”

“Lantas, bagaimana dengan kita? Aku rasa kita juga telah cukup banyak mengalami peristiwa manis dan pahit bersama.”

“Tolong jangan suruh aku membuat laporan pertanggungjawaban atas pilihanku. Kalau kita nggak bisa bersama berarti kita belum jodoh. Sederhana saja kan? Kamu masih saja seperti dulu, suka memperumit persoalan.”

“Aku tidak sedang meminta pertanggungjawabanmu. Lagipula mungkin kamu memang benar memilih dia, karena toh terbukti dia lebih berhasil daripada aku. Dia bisa memberimu rumah,mobil, dan juga kemewahan yang lain, sedangkan aku saat ini masih terjebak dalam idealismeku untuk menjadi wirausahawan. Kita mungkin memang tidak jodoh. Tapi sepertinya alasan yang lebih bagus untuk menjelaskan ketidakbersamaan kita adalah karena pengkhianatanmu.”

“Sudahlah, aku tidak mau kita bertengkar lagi. Aku harus pergi sekarang. Aku tidak mau ketinggalan kereta.”

“Sekali lagi terima kasih atas kesediaanmu menemuiku. Maafkan kata-kataku yang kurang menyenangkan tadi. Kamu mau aku antar ke stasiun?”

“Tidak usah, makasih. Selamat tinggal, aku berharap kita bisa ketemu lagi.”

Rasanya aku ingin cepat-cepat pergi darinya. Hatiku terasa berantakan sekali bila aku berada di dekatnya. Benarkah aku telah mengkhianatinya? Pertanyaan itu terus terngiang di telingaku dan memburuku sepanjang perjalananku.

Pertemuan tadi benar-benar telah membuatku murung. Andai saja dia tahu betapa ingin aku kembali ke masa lalu dan memilih dia menjadi suamiku. Andai dia tahu betapa ingin aku memeluknya tadi dan mengatakan aku juga mencintainya. Tapi mungkin semua akan lebih baik bila dia tidak tahu apa yang aku rasakan saat itu. Aku dan juga dia tidak dapat menghindari kenyataan bahwa aku telah menikah. Apapun yang terjadi dengan perasaanku, aku akan tetap mempertahankan pernikahanku demi sebuah janji. Bukankah dia juga yang mengajariku untuk memegang komitmen dan janji. Aku telah berjanji untuk hidup selamanya dengan suamiku. Aku akan pegang janji itu.

Bandung, sekali lagi kau beri aku sebuah kenangan baru. Kenangan yang seharusnya indah tetapi justru menjadi sesuatu yang tragis karena hadir bukan pada waktu yang tepat. Aku tidak tahu lagi kapan bisa mengunjungi kota ini. Mungkin bulan depan, tahun depan, atau mungkin juga tidak akan pernah sama sekali.

For all I ever had in Bandung: Thank you so much

Juni 2003

*Cerita ini hanya rekayasa dan berdasarkan imajinasi saja. Kalau ada kesamaan nama tokoh dan tempat, hal tersebut di luar kesengajaan saya.*