Transisi
Menikmati hari-hari terakhirku bermalas-malasan di rumah, karena mulai minggu depan (mudah-mudahan tidak ada penundaan lagi) aku sudah harus menjual diri dan jiwa pada orang yang mau memberiku recehan. Aku tak kan punya waktu lagi untuk berselancar, nongkrongin laptop beserta modemnya. Juga tak akan sempat lagi menyiapkan dan menyaksikan anakku berangkat sekolah. Akan seperti apa ya rasanya ketika waktu yang kita habiskan dinilai dengan rupiah? Kinda ironic of human being. Haha… c’est la vie.
Mungkin gagasan Karl Marx untuk bekerja tidak demi uang adalah bagus untuk memanusiakan manusia walau itu pasti utopia. Karl Marx pernah bermimpi yang aku tafsirkan begini. Setiap orang wajib bekerja sesuai keahliannya. Mereka bekerja tidak digaji, karena urusan makan, baju, rumah, dan kebutuhan fisik lainnya akan diurus oleh negara, dibagi secara sama rata. Tidak ada hak milik pribadi. Jadi seseorang akan bekerja demi kepuasan diri dan eksistensi belaka, tidak demi uang. Banyak kelemahannya pasti, tapi aku rasa ide itu tetap layak diperhitungkan dengan menyediakan modifikasinya. Itu kalau aku tidak salah menerjemahkan mimpi beliau ya..
Semakin lama kusadari, raga kita adalah penjara terbesar kita (mengutip kata-kata teman dekatku). Betapa banyak yang dituntut oleh raga ini, padahal dia hanyalah makhluk fana. Sedangkan jiwa, sebagai makhluk kekal, bisa dipuaskan dengan sedikit biaya. Aku bisa melakukan pengembaraan jiwa, menerobos ruang dan waktu, membebaskan imajinasiku, tanpa sepeserpun dollar yang aku butuhkan. Jiwaku bisa sampai ke negeri nun jauh di bawah kakiku dengan gratis, yang mana kalau aku bawa serta ragaku, ongkosnya akan mencapai 10 kali lipat biaya hidup bulanan keluargaku. Boros sekali raga ini.
Beberapa tahun belakangan ini, aku senang sekali memakai jasa keajaiban dunia yang ketujuh ini. Bagiku, internet adalah keajaiban dunia, soalnya aku gaptek euy…jadi mudah terbengong-bengong dengan kemajuan teknologi semacam internet ini. Dunia virtual ini benar-benar aku fungsikan sebagai pelarianku dari dunia non virtual yang kadang terlalu kejam dan terlalu nyata.
Rasanya seperti tak berwujud dunia internet itu. Seperti angin yang tak tampak tapi terasa semilirnya. Aku bisa bersahabat dengan orang yang belum sekalipun bertemu denganku, mengenali karakternya hanya melalui tulisan-tulisannya. Sungguh hal yang tidak dapat masuk akalku dulu.
Tapi sekarang, aku mau belajar terjun di dunia nyata. Merasakan benar-benar rasanya disuruh-suruh sambil dimaki seenak hati oleh bos besar, rasanya panas matahari membakar kulitku ketika aku harus turun ke jalan, merasakan cacian kenek metromini karena aku lambat turun dari bisnya, yah…merasakan semua yang sewajarnya dirasakan oleh manusia kebanyakan. Dan merasakan juga menerima uang dari hasil keringat sendiri.
Ada yang aku korbankan dari keputusanku untuk keluar dari persembunyian mayaku ini. Aku akan jarang update blog, jarang blog walking juga, dan jarang nongol di situs pertemanan. Seperti kata teman baikku yang belum pernah kulihat bentuk 3D-nya karena aku hanya berteman melalui World Wide Web, setiap kita kehilangan sesuatu, alam akan menggantinya dengan yang setara, seperti rumus kimia yang….duh, yang mana ya? Pokoknya hukum kesetimbangan reaksi kimia deh (sebenarnya aku ingat sih, cuma takut dibilang pinter, jadi pura-pura lupa…*ngeles.com*).
Postingan ini aku persembahkan untuk para blogger, dimanapun berada, yang tulisan-tulisan dan komentar-komentarnya telah menginspirasiku, membuatku menjadi dewasa (iya gitu?), membuatku berani mengambil keputusan, dan segalanya deh. Ternyata berteman itu menyenangkan, apalagi berteman dengan para blogger di dunia maya. Karena ketika aku masuk ke blog seseorang, maka semua egoku aku tanggalkan, dan aku benar-benar siap membuka pikiranku untuk masuk ke dunia blogger tersebut yang terwujud dalam postingannya. Sedangkan bila kita berkunjung secara nyata ke rumah orang, belum tentu kita mau dan mampu menanggapi topik yang sedang ingin dibicarakan oleh tuan rumah.
Semoga apa yang aku pilih dan putuskan dapat menjadi berkah bagi semuanya. Walaupun, dengan sesadar-sadarnya aku tahu bahwa setiap keputusan dalam hidup tidak dapat menyenangkan semua pihak. Tapi hidup adalah perkara memilih. Semoga juga aku siap menghadapi segala resiko pilihanku. Amin.

dunia maya,ada kenikmatan tersendiri.. asal bisa membagi waktu dengan bijak, semua terasa sangat menyenangkan
salam kenal balik
terima kasih sdh berkungjung ke blog saya..
salam
bekerja tanpa imbalan sepertinya impossible. tapi bagi beberapa orang, hal itu mungkin saja dilakukan. Bukan berarti mereka tak butuh kebutuhan standar yang manusiawi, tapi mereka tidak terjajah orang kebutuhan standar tersebut, yang bisa membuatnye menjadi budak nafsu.
haha.. ya.. internet ini suaka saya sejak pertama kali menemukannya. bisa ‘ketemu’ dan ‘berteman’ dengan banyak orang tanpa tau wujudnya, benar2 ajaib buat saya…
semoga kita bisa jadi teman… =)
Yang pasti ALLAH menyuruh kita bekerja di atas dunia ini salah satunya adalah untuk memenuhi kebutuhan2 hidup kita sehari-hari.
Dan rasanya kok sangat tidak mungkin bila semua kebutuhan fisik dibagi sama rata oleh negara, pasti akan berantakan deh, karena setiap kita pastinya mempunyai keinginan yg berbeda2 kadarnya, jadi tidak bisa tuh yg namanya sama banyak…
Setuju mba, hidup ini adalah perkara memilih, dan kita tidak akan bisa menyenangkan semua pihak dengan setiap pilihan yg kita ambil…Yang penting kita yakin saja untuk pilihan yg telah kita buat, agar setiap langkah kaki ini bisa bergerak dengan mantap dan penuh percaya diri…
Sukses ya mba, semoga dimudahkan segala urusan, amiin..
semangat ya… semoga tuhan memberkati
masa transisinya berat nian…
klo itu sdh pilihan mau apalagi ya.. semoga lebih menikmati dan memaknai hidup di habitat yg baru nanti
ah, saya lebih memilih menikmati sebisa mungkin saja, soalnya nggak mungkin melawan arus, ya kan?
harus ada filter dalam penggunaan dunia maya.
filternya? yah kita sendiri… nice post aniway
Rasanya aku tak sependapat kalau dikatakan internet itu dunia maya atau mungkin dunia virtual. Aku menganggap semua yang ada disini,teman n tetangga dikampung blog, atau barangkali disitua social networking itu hal yang nyata.
Bila mereka untouchable bukan berarti mereka maya tapi aku rasa itu hanya masalah menikmati hidup dengan cara yang berbeda. Cara menikmati kehidupan dalam layer yang berbeda. Hanya masalah taste.
OK, selamat bermigrasi.
salam kenal
ya semua itu tergantung dari kita sendiri….maya ga maya yang penting tetap bersosialisasi…
selamat menjalankan pilihan hidupmu kawan..
kau akan menemukan nuansa baru yang pastinya akan
memperkaya jiwamu..
salam.