Cul de sac

Pada suatu hari yang cerah, tidak mendung pun tidak menyengat. Lokasi tentu saja bukan Jakarta, karena Jakarta sulit untuk berudara sejuk, mungkin di Bogor, atau di Bandung. Aku berjalan menyusuri boulevard sebuah perumahan mewah. Sendiri. Lima meter di depan posisiku, aku melihat sebuah rambu peringatan yang memberitahuku bahwa jalan tersebut akan buntu pada jarak 10 km dari rambu tersebut dipasang. Aku terpaku di tempat dan mulai berpikir. Wow, jalan buntu tho…

Ada 3 opsi utama yang terlintas di benakku. Pertama, tetap menyusuri jalan tersebut hingga ketemu titik buntunya. Kedua, berbalik arah. Ketiga, berjalan di tempat saja.

Opsi pertama. Bila aku memutuskan untuk tetap melalui jalan tersebut, maka aku harus menyiapkan segala kekuatanku untuk menerobos dinding penghalang jalan tersebut. Atau bisa juga aku berusaha menumbuhkan sayap di punggungku. Saranku jangan pakai obat penumbuh jenggot, ga ngefek, ini sayap yang kita bicarakan, bukan sekedar bulu-bulu ringkih yang hanya bisa dijadikan tempat bergantungnya bidadari di alam sana. Yang aku butuhkan adalah sayap yang kokoh yang dapat membawaku terbang tinggi melintasi perintang jalan.

Dan kemungkinan terakhir adalah aku mengubah diriku menjadi tikus, sehingga aku dapat membuat terowongan bawah tanah, dan persoalan jalan buntu pun terselesaikan. Tapi aku kurang suka menjadi tikus. Karena jalan tikus itu bagiku ibarat sebuah kecurangan. Kebetulan, aku tak ingin mencurangi hidup, seberat apapun itu harus dijalani.

Diatas semua kemungkinan yang aku berikan itu, akan muncul sebuah pertanyaan realistis, apa itu mungkin? Maksudku, apa mungkin akan tumbuh sayap di punggungku atau aku bisa menerobos tembok macam makhluk halus di film-film horrorĀ  itu? Ya benar, tidak ada yang tidak mungkin didunia ini selain makan kepala sendiri. Berarti makan kepala orang masih mungkin lho…:) Tapi, berapa persen kemungkinannya itu? Apakah cukup layak untuk dicoba? Butuh perhitungan dan survey yang lebih mendetil tentang itu, dan sangat mungkin akan menghabiskan energi hidupku. Yang aku takutkan malah, saking banyaknya energi yang tersita untuk membuat perhitungannya, sampai-sampai aku tak kuat lagiĀ  untuk melanjutkan perjalananku. Si Takdir akan tertawa terpingkal-pingkal kalau sampai ini yang terjadi.

Opsi pertama ini masih menyisakan satu peluang pemikiran lagi. Kenapa tidak dijalani saja, toh titik buntunya masih berada 10 km di depan. Apa yang akan dilakukan menghadapi kebuntuan, ditentukan nanti saja kalau sudah benar-benar berada di depan titik buntu tersebut. Ini namanya makhluk paling bebal di dunia. Buat apa dipasang rambu peringatan kalau hanya untuk diabaikan?

Lanjut ke opsi kedua. Berbalik arah, dan mengubah tujuan perjalanan. Gampang kan sebenarnya. Ada pepatah mengatakan, orang waras membuat keinginannya menyesuaikan diri dengan kehidupan, orang gila membuat kehidupan menyesuaikan diri dengan keinginannya, oleh karenanya kemajuan tingkat kehidupan ada ditangan orang-orang gila. Hhmmm…mau waras apa gila ya?

Opsi ketiga. Berjalan di tempat. Dengan berjalan di tempat aku tidak akan pernah sampai pada titik buntu tersebut, sehingga tidak ada masalah yang harus diselesaikan. Berjalan ditempat juga membuat aku merasa telah mendapat pencapaian-pencapaian tertentu, tanpa aku perlu pergi kemana-mana. Pilihan yang aman walaupun bodoh, karena setidaknya aku tidak akan disebut menyerah, karena aku bisa berdalih bahwa aku kan masih tetap berjalan.

Ujung-ujungnya, untuk sementara aku akan memilih untuk mampir ke warung kopi yang kebetulan ada di dekat rambu peringatan jalan buntu tersebut. Ngopi-ngopi dulu, merokok-merokok dulu. Rokok mild untuk cewek, rokok kretek untuk cowok (bukan bias gender, cuma biar yang cewek kelihatan imut tapi berani, sedangkan yang cowok biar kelihatan ga seperti cewek aja..hehehe). Nongkrong-nongkrong dulu ajah. Sambil berharap lima menit kemudian malaikat maut meniupkan terompet sangkakalanya untuk memanggil sang kiamat yang memang sudah siap menghampiri sehingga aku tak perlu membuat keputusan apapun lagi. Lagi pula, ga mungkin kok boulevard perumahan mewah itu buntu, bisa bangkrut developernya, kecuali arsitek yang menata perumahan tersebut lagi mabuk karena cinta…:D

~ oleh kwarsakristalin pada 12 Oktober 2009.

11 Tanggapan to “Cul de sac”

  1. Hmmm….betul2 renungan ya :)

  2. numpang jawab pertanyaan dulu.. baru balik nih ..

    kalo pemberitahuan update blog lewat email ada kan? itu gimana caranya sih? thx

    kalo blog yang dituju dipasangi tools yang dimaksud,, contohnya di tempat saya ini dipasangi feedburner bisa saja.. feedburner itu ada fasilitas untuk kirim updet by imel..

    “makasih ya..”

  3. hmmm asik banget tulisannya,are u a writer? btw jauh amat ya 10km, kalo aku terus aja,kan tujuannya ke km 9 .. salam kenal ya :D

    “saya bukan penulis, hanya blogger saja…di km 9 ada buayanya, kalo ga jalan terus bisa digigit…pilih mana hayo?”

  4. Kalau ada jalan yang lempang ngapain pilih yang buntu lagu capek mikir opsi ini itu. Pemilik perumahan tahu mana jalan lempang mana buntu. Kalau dalam posisi seperti cerita di atas, saya akan mendekati pemilik perumahan, bawa oleh-oleh, biar dia senang lalu jadi teman yang dengan jujur ikhlas wanti-watnti: “jangan ke sana itu buntu, lewat sini saja”. Hidup pun jadi enak :)
    Salam kenal

    “top…hidup memang untuk dinikmati…” :)

  5. tulisan yang kontemplatif dan menggerakkan pikiran kita…

    “mudah-mudahan..amin” :)

  6. Wah kalo aku sih lihat rambu2 nya dulu, kalau rambu2 nya kelihatan formal dan tampaknya bisa dipercaya, maka aku akan berhenti di situ dan tanya deh ke orang di warung kopi itu, apakah ada jalan alternatif lain ke tempat yg sedang aku tuju selain jalan yg buntu itu…Terus istirahat bentar lalu bergerak kembali melanjutkan perjalanan…:)

    “hehehe…tanya ke orang ya…hmmm..boleh juga tuh…” :)

  7. Kalau aku, mungkin, gak mau ambil resiko, lebih baik turun dulu dan mencari orang terdekat untuk meminta informasi tentang situasi yang sebenarnya. Seperti pepatah ‘malu bertanya sesat di jalan’, sebai’nya bertanya dulu baru ambil keputusan….keculai pas lagi dikejar anjing gila, bisa lain ceritanya he..he..he….salam kenal juga yah…have a great day!

  8. tak ada yang perlu ditakuti selain rasa takut itu sendiri…

    “okeh…” :)

  9. saya memilih untuk mengurai satu demi satu DNA saya, hingga bisa menebar bebas ke udara, tidak bisa menguap. Tidak bisa dihalangi benda nadir apapun, hanya berkelebat bebas macam bluetooth atau wi-fi, lalu berkumpul lagi di km10 itu, membentuk kembali tubuh saya satu demi satu. ;)

    “walah…jadi inget film matrix” :)

  10. mampir kesini tuk pertama kali..
    terasa mengalir hanyuuut..
    eniwe.. cul de sac tu artinya apa ya?

    “cul de sac artinya jalan buntu, kalo ga salah itu juga…hehehe..waduh, kok hanyut sih, bisa berenang ga nih?” :)

  11. hahaha aku kan sejenis buaya juga … nggak bakal digigit deh :D

    “wee…ketauan deh..” :D

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.