Kantin Salman

Sewaktu aku masih menjadi mahasiswa di Bandung, aku sering makan di Kantin Salman. Selain karena lokasinya yang dekat kampusku, makanannya juga enak dan murah, menurutku ketika itu. Ya..tidak enak-enak amat sih, masih kalah bila dibandingkan Kantin Borju di jurusan IF, atau Pondok Kapau di Simpang Dago, tapi setidaknya tempatnya cukup bersih.

Kemarin, ketika aku kembali ke Bandung, aku mampir ke Kantin Salman untuk makan siang. Penuh, seperti biasa, oleh mahasiswa berkantong cekak kelihatannya. Pilihan menu masih tak jauh beda dengan jaman dahulu. Pelayannya pun muka-muka lama yang masih akrab kukenali. Setelah memenuhi piringku dengan nasi dan lauk pauk, aku menuju kasir untuk bayar. Sudah kuduga, harganya benar-benar harga mahasiswa. Selanjutnya aku memilih kursi untuk menikmati makan siangku. Agak kaget aku dengan rasanya. Kok seperti ada yang berubah ya, aku membatin. Kemudian aku mengamati orang-orang lain yang sedang makan disana. Mereka terlihat asyik-asyik saja dengan makanannya.

Karena takut mubadzir, aku habiskan juga makan siangku. Terlintas dalam benakku, sebenarnya yang berubah rasa makanannya ataukah lidahku. Mungkinkah pengalaman lidahku malang melintang di berbagai jenis rasa makanan enak (yang disertai mahal) membuat lidahku menjadi tidak bersahabat lagi dengan rasa makanan Kantin Salman? Rasa itu memang urusan pengalaman, rasa apapun itu.

Ketika aku masih mahasiswa, boleh dibilang aku sangat jarang makan di restoran mahal. Jangankan restoran mahal, makan di restoran fastfood, yang untuk kantong masyarakat menengah termasuk murah saja, aku jarang. Paling bila ada teman kost yang sudah bekerja sedang ingin mentraktir, baru aku bisa merasakan burger dan segala turunannya itu. Atau kadang bila ada cowok yang lagi PDKT, menjadi salah satu kesempatanku mencicipi makanan ala Barat itu (kesian amat ya…:( ).

Sekarang, kehidupan ekonomiku sudah jauh lebih baik daripada sewaktu masih menjadi mahasiswa dahulu. Akibatnya, rasa makanan di Kantin Salman pun menjadi kurang pas di lidahku. Kalau rasa itu adalah perkara pengalaman, maka aku akan menyesali semua pengalaman lidahku, bila pada akhirnya aku tidak dapat menikmati rasa yang murah di Kantin Salman.

Lebih jauh lagi, bila semua kemewahan kebendaan (ga mewah-mewah amat sih, cuma lebih mewah dibanding dahulu saja) membuatku tak bisa lagi merasakan kesederhanaan, maka aku akan lebih suka melupakan saja semua pengalamanku itu. Dalam banyak hal, kemewahan rasa itu seringkali membuat kita buta akan kesederhanaan.

Seorang Gandhi yang vegetarian pernah berkata, rasa makanan itu tidak terletak di lidah, tapi pada pikiran kita. Artinya, kita bisa mengontrolnya. Pernyataan ini mungkin akan ditolak oleh para chef dan pemilik restoran mahal. Entahlah. Yang aku rasakan hanya spirit Gandhi untuk mensyukuri setiap makanan yang di dapat setiap hari, dan segala hal yang kita dapat dalam hidup kita.

Apakah benar makan di sebuah kafe di puncak gunung jauh lebih nikmat dibandingkan makan di warung tenda di puncak gunung yang sama? Bagiku, minum kopi di St****ck tidak lebih menyenangkan daripada minum kopi di warung pinggir jalan. Kadang, yang kita beli hanya prestise-nya saja, yang notabene sering diidentikkan dengan kenyamanan. Beberapa fasiltas memang akan dipenuhi oleh kafe-kafe itu, seperti wi-fi, meja dan ruangan yang luas ber-AC, sehingga memudahkan kita menemui klien. Tetapi, bila sekedar ngobrol tidak resmi, dan nongkrong saja, sepertinya kita tidak butuh fasilitas sebanyak itu. Semua itu hanyalah urusan rasa.

Kembali ke Kantin Salman, bahkan anakku pun tidak mau makan makanan disana (berarti boleh aku bilang, masakanku di rumah lebih enak daripada masakan Kantin Salman dong… :P ). Aku tak mau anakku menjadi picky eater, menjadi anak yang selera makannya tingkat tinggi. Aku ingin anakku bisa makan apa saja, seperti aku (semoga bukan berarti maruk..hehe).

Kesederhanaan itu mewah, walau tidak mahal. Dan aku ingin selalu memilikinya.

~ oleh kwarsakristalin pada 5 Oktober 2009.

6 Tanggapan to “Kantin Salman”

  1. “bila semua kemewahan kebendaan membuatku tak bisa lagi merasakan kesederhanaan, maka aku akan lebih suka melupakan saja semua pengalamanku itu. Dalam banyak hal, kemewahan rasa itu seringkali membuat kita buta akan kesederhanaan.”

    Dalam banget bu…
    salam kenal

    Musafir.

    “salam kenal juga” :)

  2. what is this ? i dont understand you :) :P :(

    “hahaha…sama dong…aku juga ga ngerti kok…” :)

  3. buat spammer unforgetable: maaf saya mendelete semua komentar anda, baik yang sudah ataupun yang akan anda post di blog saya. saya terganggu dengan kata-kata anda. semua tulisan yang saya post disini bukan untuk siapa2, kalaupun untuk seseorang maka saya pasti akan memberitahu orang tersebut secara personal. dan seingat saya, saya tidak pernah mengirim pesan personal kepada orang bernama unforgetable.

  4. kalimat puitis bagus sekali:”Kesederhanaan itu mewah…”
    saya sangat suka… :-)
    salam

  5. aku kalo mampir ke bandung sering kali makan di kantin salman tapi apa yang membawaku kesana karena suasana kampus ingin kuhadirkan kembali dan mengingat masa2 indah dulu. bersama kawan2 berdiskusi dari berbagai daerah dan elemen kampus. ya itu yang diingat

    Sebenarnya makan itu suasana hati dimanapun tempatnya. bila di resto yang mahal sekalipun . ketika malam , kita makan di pingir kolam hitel dengan lampu yang redup dan suasan yang romantis berdua bersama kekasih tercinta. wah sungguh indah

    namun bila makan di gunung wah sambil menikmati udara dingin sambil makan dengan ikan asin dan sambel cibiuk wah nikmat juga

    atau makan di pingir jalan di temanin debu dan beragam manusia ya nikmat juga.

    yang penting ada duit untuk membayar makanan tersebut atau punya bahan untuk dimakan

    salam kenal

    “..dimana-mana sama, yg penting dinikmati…” :)

  6. Salam kenal mba Umi..:)
    Saya juga dulu waktu kuliah sering main ke kantin salman, sekedar untuk mencicipi makanannya, dan biasanya saya ke sana sehabis melihat-lihat buku2 di kios salman…

    Betul sekali, rasa itu memang sangat bergantung pada pengalaman dan kebiasaan makan kita, dan yg tidak kalah penting menurut saya adalah ketika kita bisa makan dengan “rasa syukur”, maka di sanalah akan kita rasakan kenikmatan yg tak terkira, dimanapaun tempatnya dan apapun yg kita makan, karena dengan syukur ALLAH akan mengirimkan kenikmatan itu ke lidah kita…

    Mba mohon izin blog ini saya link yah, terima kasih…

    “silahkan..saya link balik juga blognya ya mbak..” :)

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.