About Him That I Love

8 tahun yang lalu aku menikah. Itu adalah saat-saat yang aneh bagiku. Umurku ketika itu 23 tahun, sedangkan suamiku 25 tahun. Aneh, karena tiba-tiba aku harus membagi segalanya dengan orang lain. Membagi rahasia batin, membagi tempat tidur, membagi masa depan, dan termasuk juga ketika aku harus masuk dalam keluarga besar suamiku. Aku bagaikan orang asing yang tiba-tiba harus menjadi bagian tak terpisahkan dari sebuah komunitas. Suamiku bukan orang yang baru aku kenal sebenarnya. Aku ‘berpacaran’ selama 3 tahun, sebelum aku memutuskan menikah dengannya. Dia adalah orang yang baik, jujur, dan memegang tinggi komitmen. Mungkin kami berbeda, tapi itu tidak seratus persen. Bukankah di dunia ini memang tidak ada perbedaan atau persamaan seratus persen dari tiap-tiap orang?

Suamiku senang mendaki gunung. Dan aku juga senang mendaki gunung. Kami pernah bersama-sama menaklukkan gunung tertinggi di Jawa Barat, Gunung Ciremai. Betapa bahagianya aku ketika itu, karena aku tak mungkin bisa mencapai puncak itu kalau bukan bersama suamiku. Ketika aku memutuskan dekat dengannya, saat itu adalah masa-masa paling buruk kuliahku. Aku turun angkatan sampai 2 tingkat. Aku sedang mabuk dengan buku-buku sastra dan filsafat, sampai-sampai kuliahku terlantar. Aku juga sedang giat-giatnya mengikuti berbagai aktifitas di luar kegiatan belajar mengajar, dan aku tidak bisa membagi waktu dengan kuliahku. Mungkin juga karena aku sebenarnya kurang tertarik dengan ilmu kuliahku. Yang pasti, kalau bukan karena suamiku, mungkin aku tidak akan bisa menyelesaikan kuliahku.

Suatu ketika yang tidak kusangka, aku pernah tertarik untuk berteman dekat dengan seseorang yang pada sisi yang lain mirip denganku. (Note: aku memiliki banyak sisi kepribadian, dan tiap sisinya akan selalu berpotongan dengan orang lain.) Setelah sekitar setengah tahun aku berinteraksi, akhirnya aku sampai pada kesimpulan bahwa aku memang paling cocok dengan suamiku. Memang, ada sisi vital dari diriku yang tidak dapat dipenuhi oleh suamiku, bahkan menjamahnya pun mungkin dia tidak bisa. Tapi, aku rasa sisi itu adalah vital tapi tidak penting. Karena kita ini hidup di dunia nyata, berhadapan dengan masalah sehari-hari yang juga nyata. Menemui kemacetan di jalan, kejahatan di angkutan umum, penghinaan dan peremehan oleh rekan kerja, dan lain-lain. Life is so real, that it doesn’t leave space for unrested soul.

Tidak butuh ruang yang terlalu luas untuk bercengeng-cengeng tentang cinta atau meratapi kehampaan hidup. Dan begitulah, aku jatuh cinta kembali kepada suamiku untuk kesekian kalinya. Dan rasa syukurku yang dalam kepada Tuhan YME, karena Dia menurunkan makhluk seperti suamiku untuk menjadi teman hidupku. Bagi aku yang labil, dominan, egois, dan mudah terbawa emosi, dia adalah lelaki terbaikku. Kadang kita sulit mensyukuri sesuatu yang kita miliki dan telah dipilihkan yang terbaik oleh Allah. Kita malah sibuk mencari apa yang tidak kita miliki, merasa bahwa sesuatu yang tidak kita miliki adalah lebih baik daripada sesuatu yang kita miliki. But it’s OK. Semua itu manusiawi. Aku diciptakan bukan sebagai malaikat tanpa cela, aku manusia biasa yang sangat berpeluang melakukan kesalahan.

Ini adalah blog ketigaku. Di blog-ku sebelumnya aku selalu menulis tentang muramnya cinta, hilangnya makna hidup, dan keluh kesah jiwa yang resah. Aku ingin mengubur semua kecemasan dan kegundahan jiwaku pada dua blogku sebelumnya. Sekarang aku ingin mulai menulis sesuatu yang tidak skeptic dan galau lagi, aku ingin membangun jiwa yang sehat melalui menulis hal-hal yang positif dalam hidup. Tidak ada untungnya bermuram durja menghadapi hidup, sedangkan senyuman jauh lebih berguna serta mudah menerapkannya pula. Menatap ke depan, tidak berjalan dengan kepala menghadap ke belakang (bisa nabrak soalnya :) ). Berada disini, saat ini, tapi tetap tidak takut bermimpi. Bismillah…

~ oleh kwarsakristalin pada 4 Oktober 2009.

3 Tanggapan to “About Him That I Love”

  1. Hidup bersama bukan karena cinta…tapi karena KebijaksanaanNya. Bagiku, aku ingin bersama teman hidupku selamanya, sampai kaki ini menginjak surga, biarkan Allah yang mengurus soal cinta.

    “subhanallah…beautiful words. tapi ngomong2 itu kaki kok enak bener menginjak surga, gimana kalo ujungnya bukan surga…hehhe…just in case, thx for ur comment” :)

  2. Wuih…keren banget rangkaian kata-katanya….pokoknya yang bersangkut paut dengan cinta memang begitu banyak diksi yang bisa dikombinasi menjadi ungkapan yang dalam dan indah…apalagi ditanngan sastrawan seperti sampean he…he..he…

    “saya mah bukan sastrawan atau sastrawati, saya mah kartikawati (nama belakang saya itu…)hehehe…” :)

  3. ….kau bukan yang pertama,
    tapi pasti yang terakhir…….
    Lirik lagunya Mus Mujiono terkesan datar namun aku rasa menjadi harapan bagi banyak orang.
    Banyak orang yang memutuskan menikah karena merasa memiliki banyak kesamaan tapi tak sedikit yang harus berakhir dengan perpisahan.Tak mudah memang mengendalikan orang lain apalagi diri sendiri.
    Perbedaan itu kadang membuat dunia ini lebih indah.
    Dan perlu mata batin untuk menatapnya.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.