Kembali ke kota Bandung, setelah sekian lama aku tinggalkan, membangkitkan kenangan lamaku akan kota ini. Sebenarnya aku tidak tinggal jauh dari Bandung, aku tinggal di Jakarta. Tapi sejak aku menikah 2 tahun yang lalu, aku seperti tak punya waktu lagi untuk pergi keluar kota.
Baru sekarang aku bisa kembali ke kota ini. Itu juga tidak untuk waktu yang lama. Suamiku hanya memberiku waktu 2 hari untukku mengurus pengambilan ijazah. Ternyata sudah banyak yang berubah dari kota ini. Kampusku juga sudah berubah banyak. Aku hampir tidak mengenalinya. Selama disini aku tinggal di kost temanku, Astrid. Suamiku menyarankanku untuk tinggal di hotel, agar tidak merepotkan temanku. Tapi aku lebih suka tinggal di kost Astrid, sekalian melepas rinduku pada temanku itu. Sudah lama juga kami tidak bertemu. Setelah lulus, Astrid memutuskan untuk tetap di Bandung. Bersama beberapa temannya dia membuka usaha cafetaria. Aku salut dengan semangat wirausahanya dan juga kemandiriannya.
Walaupun kini telah ada Mc Donald dan bangunan-bangunan baru lain di Simpang Dago, tapi udara dimalam hari masih tetap tak berubah. Dingin dan menusuk, memutar ulang kenanganku di masa-masa kuliah dahulu. Malam itu aku sedang makan sate Ponorogo di kaki lima Simpang Dago bersama Astrid, ketika tiba-tiba seorang laki-laki memanggil namaku. Dia kemudian duduk di depanku. Aku terdiam sejenak. Aku tak menyangka akan bertemu dia di kota ini. Laki-laki ini adalah sosok yang begitu dekat dengan kehidupanku di waktu kuliah dulu.
“Kapan datang?”, tanyanya.
“Tadi pagi”, jawabku singkat. Aku masih terperangkap dalam keterkejutanku.
“Sendirian?”
“Iya”
“Tinggal dimana selama di Bandung?”
“Aku tinggal di kost Astrid.”
Hanya obrolan pendek penuh basa basi yang selanjutnya mengisi percakapan kami di kaki lima itu. Sepanjang perjalanan menuju kost Astrid, pikiranku melayang kemana-mana. Pertemuan itu membuat kenangan tentang kota ini tersibak kembali seluruhnya. Tak terkecuali kenangan yang selama ini ingin aku lupakan.
Jam lima pagi, handphoneku berbunyi. Ternyata Norman yang menelponku. “Aku ingin ketemu hari ini. Kamu ada waktu jam berapa?”
“Aku nggak yakin aku bisa menemuimu hari ini?”, jawabku menolak halus ajakan Norman, laki-laki yang semalam sempat membuatku tak dapat tidur. “Aku harus mengurus ijazahku pagi ini dan jam lima sore aku sudah harus pulang ke Jakarta,” lanjutku.
“Terserahlah, tapi aku tetap akan menunggumu di depan lapangan basket sampai jam enam sore. Aku sangat berharap kamu mau menemuiku disana”
Belum sempat aku berkata apa-apa dia sudah menutup teleponnya.
Sepanjang pagi itu aku benar-benar gelisah. Sebagian dari hatiku sangat ingin menemuinya, tapi sisi yang lain melarangku melakukannya. Aku kangen padanya, tapi aku akan sangat merasa bersalah pada suamiku bila aku menemuinya. Dulu kami pernah mengukir banyak kenangan indah bersama. Sebenarnya aku menyayanginya, tapi entah kenapa sepertinya aku tidak sanggup untuk berkomitmen dengannya. Bagiku dia terlalu rumit untuk aku pahami sebagai pasangan jiwa. Aku sangat nyaman berada di dekatnya, tapi tidak untuk merencanakan masa depan bersamanya. Kami memiliki perbedaan yang besar tentang rencana masa depan. Akhirnya kami menjalani hari-hari indah kami tanpa ada komitmen apa-apa.
Selesai mengurus ijazahku, aku berjalan mengelilingi kampus ini tanpa tujuan. Entah sudah berapa kali aku melewati kolam ditengah kampusku ini, dan aku masih belum bisa memutuskan untuk menemuinya atau tidak.
“Hai, boleh aku duduk?”, sapaku padanya.
“Terima kasih sudah mau datang,” sambutnya. “Duduklah.”
Sejenak kami terdiam dan tenggelam dalam pikiran masing-masing. “Kamu undang aku bukan untuk saling diam kan?”, tanyaku mengejutkannya.
“Maaf”, jawabnya. “Aku kangen kamu, sangat kangen,” lanjutnya. “Jadinya aku nggak tahu harus ngomong apa sekarang.”
“Aku juga. Kudengar kamu bikin usaha sendiri di Mataram.”
“Iya, tapi nggak berjalan lancar. Mungkin karena pasar disana kurang bagus. Aku ingin memulainya kembali disini, di Bandung. Ternyata hidup yang sesungguhnya itu baru dimulai setelah lulus kuliah. Dulu aku pikir dengan ijazah ITB ku, aku akan mendapat pekerjaan dengan mudah. Tapi ternyata semuanya tak semudah itu. Kamu sendiri gimana? Kesibukanmu apa? Udah punya anak berapa?”
“Aku baru keguguran 2 bulan yang lalu. Kesibukanku tidak ada. Aku masih angin-anginan seperti dulu. Keinginan sih banyak, tapi nggak ada yang benar-benar aku kejar. Aku ini seperti layang-layang yang putus talinya. Kemana angin bertiup, kesanalah aku pergi. Ah, sudahlah, nggak usah bicara tentang keinginan dan cita-cita, ya. Aku sendiri sangat tidak mengerti dengan diriku.”
“Oh, aku turut berduka cita atas keguguranmu. Bagaimana suamimu? Apa dia baik padamu?”
“Iya, dia baik padaku. Tapi dalam beberapa hal dia agak susah memberiku toleransi. Ternyata menikah itu sangat melelahkan. Aku capek. Andai saja aku bisa cuti dari pernikahan ini.”
Kembali kesunyian menyelimuti kami. Hingga akhirnya dia memecah kesunyian. “Kenapa kamu dulu meninggalkan aku?” tanyanya.
“Aku tidak pernah meninggalkan siapapun.”
“Tolong jangan menyangkal bahwa ada hubungan istimewa antara kita sebelum laki-laki itu datang dalam hidupmu dan menghancurkan hidupku.”
“Entah sudah berapa kali aku bilang, kita tidak ada komitmen waktu itu. Aku bebas untuk pacaran dengan cowok lain sebebas kamu pacaran dengan cewek lain.”
“Aku tidak percaya kamu membebaskan aku untuk pacaran dengan cewek lain. Ketika aku dulu suka sama Niken, kamu memintaku untuk meninggalkannya. Kamu mengikatku, sedangkan kamu sendiri tidak mau terikat.”
“Aku tidak mengikatmu. Waktu itu aku hanya meminta kerelaanmu untuk meninggalkannya, aku tidak memaksamu. Aku juga tidak mengancammu apa-apa kalaupun kamu tetap tidak mau meninggalkannya. Jangan menuduhku yang bukan-bukan.”
“Aku masih mencintaimu dan akan tetap mencintaimu sampai ajal menjemputku. Ini adalah janjiku padamu dulu dan aku masih memegangnya hingga saat ini.”
Aku terdiam kembali. Aku tak tahu harus mengatakan atau bersikap apa saat itu. Aku juga masih menyayanginya seperti dulu. Aku senang bisa bertemu dia kembali saat ini. Tapi aku tak mau mengatakan ini padanya. Dia tidak boleh tahu apa yang kurasakan.
“Kenapa kamu dulu tidak mau menjadi pacarku?”, tanyanya padaku.
“Kita tidak cocok,” jawabku sambil menghela nafas panjang. “Kita lebih cocok untuk menjadi teman dekat daripada menjadi sepasang kekasih,” lanjutku.
“Non sense. Kita sebenarnya memiliki kesamaan dalam banyak hal, andai saja kamu mau membuka mata hatimu untuk melihat kesamaan itu. Tapi sayang kamu lebih memilih dunia hura-hura laki-laki itu.”
“Jangan ngomong sembarangan tentang suamiku. Kamu tidak mengerti betapa banyak peristiwa yang telah aku alami bersamanya, baik itu yang indah maupun yang buruk. Hubunganku dengannya tidak melulu hura-hura dan senang-senang saja.”
“Lantas, bagaimana dengan kita? Aku rasa kita juga telah cukup banyak mengalami peristiwa manis dan pahit bersama.”
“Tolong jangan suruh aku membuat laporan pertanggungjawaban atas pilihanku. Kalau kita nggak bisa bersama berarti kita belum jodoh. Sederhana saja kan? Kamu masih saja seperti dulu, suka memperumit persoalan.”
“Aku tidak sedang meminta pertanggungjawabanmu. Lagipula mungkin kamu memang benar memilih dia, karena toh terbukti dia lebih berhasil daripada aku. Dia bisa memberimu rumah,mobil, dan juga kemewahan yang lain, sedangkan aku saat ini masih terjebak dalam idealismeku untuk menjadi wirausahawan. Kita mungkin memang tidak jodoh. Tapi sepertinya alasan yang lebih bagus untuk menjelaskan ketidakbersamaan kita adalah karena pengkhianatanmu.”
“Sudahlah, aku tidak mau kita bertengkar lagi. Aku harus pergi sekarang. Aku tidak mau ketinggalan kereta.”
“Sekali lagi terima kasih atas kesediaanmu menemuiku. Maafkan kata-kataku yang kurang menyenangkan tadi. Kamu mau aku antar ke stasiun?”
“Tidak usah, makasih. Selamat tinggal, aku berharap kita bisa ketemu lagi.”
Rasanya aku ingin cepat-cepat pergi darinya. Hatiku terasa berantakan sekali bila aku berada di dekatnya. Benarkah aku telah mengkhianatinya? Pertanyaan itu terus terngiang di telingaku dan memburuku sepanjang perjalananku.
Pertemuan tadi benar-benar telah membuatku murung. Andai saja dia tahu betapa ingin aku kembali ke masa lalu dan memilih dia menjadi suamiku. Andai dia tahu betapa ingin aku memeluknya tadi dan mengatakan aku juga mencintainya. Tapi mungkin semua akan lebih baik bila dia tidak tahu apa yang aku rasakan saat itu. Aku dan juga dia tidak dapat menghindari kenyataan bahwa aku telah menikah. Apapun yang terjadi dengan perasaanku, aku akan tetap mempertahankan pernikahanku demi sebuah janji. Bukankah dia juga yang mengajariku untuk memegang komitmen dan janji. Aku telah berjanji untuk hidup selamanya dengan suamiku. Aku akan pegang janji itu.
Bandung, sekali lagi kau beri aku sebuah kenangan baru. Kenangan yang seharusnya indah tetapi justru menjadi sesuatu yang tragis karena hadir bukan pada waktu yang tepat. Aku tidak tahu lagi kapan bisa mengunjungi kota ini. Mungkin bulan depan, tahun depan, atau mungkin juga tidak akan pernah sama sekali.
For all I ever had in Bandung: Thank you so much
Juni 2003
*Cerita ini hanya rekayasa dan berdasarkan imajinasi saja. Kalau ada kesamaan nama tokoh dan tempat, hal tersebut di luar kesengajaan saya.*
Ditulis dalam Cerpen
Tag: Cerpen
Kata Mereka